Oleh : Cahyadi Takariawan
Ronggowarsito (1802-1873), seorang pujangga dari lingkungan Kraton Surakarta menuangkan kegelisahan hatinya dalam kitab Serat Kalatida. Syair “jaman edan” dibuat sedemikian apik, dengan ungkapan yang indah namun sekaligus vulgar dan menohok. Konon, syair jaman edan ini merupakan kritik Ronggowarsito atas kondisi seputar kekuasaan Pakubuwono IX raja Kasunanan Surakarta yang memerintah tahun 1861-1893.
Kendati sudah sangat tua, namun syair ini tetap berkumandang sampai sekarang. Perhatikan syair berikut ini.
amenangi jaman edan,
ewuhaya ing pambudi,
melu ngedan nora tahan,
yen tan melu anglakoni,
boya keduman melik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang eling klawan waspada
Jika diterjemahkan dengan bebas, maknanya kurang lebih seperti ini :
Menyaksikan zaman edan / membuat serba salah dalam bertindak / mau ikut bersikap gila, kita tidak akan tahan / kalau tidak ikut melakukan / tidak akan mendapat bagian / sehingga sengsara pada akhirnya / namun telah menjadi kehendak Allah / sebahagia-bahagianya orang yang lalai / lebih bahagia orang yang ingat dan waspada.
Eling, dalam bahasa Jawa, memiliki pengertian yang lebih dalam dibanding dengan kata “ingat”. Eling itu kesadaran ruhaniyah, untuk selalu membawa pengetahuan dan pemahaman yang mendalam tentang hakikat kehidupan dan kebenaran. Eling bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah dan akan dikembalikan kepada Allah. Eling bahwa manusia itu semua akan mati dan mempertanggungjwabkan perbuatan masing-masing. Eling bahwa manusia itu hanyalah makhluk lemah yang tidak layak menyandang kesombongan.
Waspada memiliki makna terjaga dan tidak lalai. Manusia yang memiliki sifat eling, harus diikuti dengan waspada. Dalam kehidupan, kita bisa menghadapi berbagai bentuk tantangan, ancaman, hambatan baik yang datang dari jauh maupun dari dekat, dari luar maupun dari dalam. Jika manusia selalu waspada, akan bisa terhindar dari berbagai ancaman tersebut, dan mampu eksis di tengah terpaan badai jaman edan.
Mungkin semua orang melakukan kegilaan, agar mendapat bagian. Mungkin selera zaman menghendaki manusia untuk mengikuti kerusakan sesuai fase perkembangannya. Konsisten dengan kebenaran menjadi sangat berat dirasakan, karena menjadi terasing dari gemerlap peradaban. Manusia dipaksa menjadi paranoid, karena diambang kegalauan. Harus memilih yang tidak sesuai dengan hati nurani.
Kendati zaman dipenuhi dengan aroma kegilaan, namun pesan Serat Kalatidha sangat jelas. Jangan ikuti kegilaan zaman. Walau mereka tampak seperti ornag yang menang dan bahagia, namun mereka pada hakikatnya adalah orang yang lalai dan kalah. Mereka dikalahkan oleh zaman. Maka yang menang adalah mereka yang eling dan waspada.
Pertarungan ide dan gaya hidup terus mengemuka. Hendaknya kita selalu eling dan waspada. Agar tidak tergilas kegilaan zaman.









0 komentar:
Posting Komentar