shalat iedul adha 1433
Ibrahim ‘alaihis salam adalah figur
seorang ayah yang sangat bijak. Kecintaan beliau kepada Allah menjadi
landasan utama dalam setiap langkah kehidupan. Ujian demi ujian
dihadapkan kepada Ibrahim untuk semakin memantapkan kelurusan
orientasinya. Subahanallah, Ibrahim senantiasa lulus melewati berbagai
ujian tersebut.
Syahdan, setelah sekian lama berpisah,
Nabi Ibrahim as menemui putera tersayangnya, Ismail. Belum usai rasa
rindu yang terpendam saat bertemu dengan buah hati tersayang, Ibrahim
as harus membuktikan besarnya rasa cinta kepada Allah melebihi
segala-galanya. Beliau mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih
Ismail yang sangat dicintai.
Perhatikan bagaimana Ibrahim as membahasakan “kalimat perintah dari Allah” menjadi “kalimat musyawarah kepada Ismail”.
“Maka tatkala anak itu
sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim
berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku
menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (Ash Shaffat: 102).
Pentingnya Musyawarah
Sebagai Nabi, mudah saja bagi Ibrahim as
untuk mengatakan, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, dan
aku akan mentaati perintah Tuhanku”. Dengan bahasa perintah seperti
itu, pasti Ismail akan taat dan patuh. Namun, subhanallah, bukan itu bahasa yang beliau pilih. Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya sikap qana’ah, sikap penerimaan yang tulus dalam melaksanakan perintah. Bukan sebuah keterpaksaan.
Maka, lihatlah betapa indah bahasa yang dipilih Ibrahim as untuk disampaikan kepada ananda tercinta, Ismail :
“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam
mimpi bahwa aku menyembelihmu…” Beliau hanya menyebut perintah Allah
sebagai mimpi. Ibrahim tidak mengatakan penyembelihan Ismail sebagai
sebuah perintah yang wajib dilaksanakan.
Kalimat musyawarah muncul dalam ungkapan
Ibrahim as, “maka pikirkanlah apa pendapatmu…..” Sungguh, beliau bisa
saja mengatakan, “Engkau harus taat dan tidak boleh membantah. Ini
perintah Allah !” Beliau membahasakan perintah Allah dengan bahasa istisyarah (meminta pendapat), agar penerimaan Isma’il bisa lebih sempurna, bukan semata-mata karena melaksanakan kewajiban.
Dengan bentuk musyawarah seperti itu, lebih
tampak kualitas kepribadian Ismail yang luar biasa. Ia sangat yakin,
bahwa bapaknya adalah Nabi yang selalu berada dalam bimbingan Allah.
Ismail tidak menyangsikan perkataan dan perbuatan bapaknya, karena
selama ini ia mengetahui bahwa bapaknya sangat mentaati Allah. Dengan
mudah Ismail memahami bahwa apa yang disebut sebagai mimpi oleh Ibrahim
as, sesungguhnya adalah sebuah perintah dari Allah.
Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya
musyawarah dalam kehidupan keluarga, sampaipun dalam masalah pelaksanaan
kewajiban agama. Berbagai pertanyaan dan dialog dengan anak, akan
membuat mereka lebih memahami esensi dan hakikat dari peribadatan yang
telah dilaksanakan dalam kehidupan keseharian.
“Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang tidak mau melaksanakan shalat ?”
“Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang tidak mau berpuasa Ramadhan?”
Pertanyaan semacam itu akan bisa
membangkitkan pemikiran dan pada akhirnya bisa memunculkan kesadaran
yang tulus akan pentingnya melaksanakan kewajiban agama.
Bahasa dan Kehalusan Perasaan
Ibrahim juga mengajarkan kepada kita
pemilihan bahasa dan kehalusan perasaan. Ibrahim berbicara dengan bahasa
hati yang tulus, maka langsung menyambung pula dengan hati Ismail yang
halus. Mereka tidak perlu berdebat dan adu argumen. Mereka berbicara
dengan kehalusan budi.
Lihatlah, betapa luar biasa jawaban Ismail :
“Hai Ayahanda, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang shabar” (Ash Shaffat: 102).
Inilah perbincangan antara dua orang yang
saling mengasihi dalam mencintai Allah melebihi segala-galanya.
Ungkapan mimpi yang disebutkan Ibrahim, dijawab Ismail dengan, “Hai
Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu…” Sangat
peka hati Ismail, bahwa mimpi bapaknya bukanlah takhayul, namun sebuah
perintah Allah.
Keduanya mampu menggunakan bahasa yang
santun, bahasa yang halus dan lembut. Itu semua muncul karena kehalusan
perasaan Ibrahim dan Ismail, yang telah ditempa dalam keimanan kepada
Allah.
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keshabaran keduanya)” (Ash Shaffat: 103).
Tentu saja, Allah tidak akan menyia-nyiakan
pengorbanan keduanya. Ketaatan Ibrahim terhadap perintah Allah untuk
menyembelih anak tercinta, membuahkan syariat kurban yang kita
laksanakan hingga sekarang.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Ash Shaffat: 107).
Ibrahim as memberikan keteladanan kepada kita
perlunya musyawarah dalam kehidupan rumah tangga. Sesuatu yang telah
menjadi perintah Allah, bisa dibahasakan dengan lebih “manusiawi”
melalui musyawarah. Hal inilah yang akan membangkitkan motivasi kuat
pada anak untuk menunaikan ketaatan, karena tidak didasarkan kepada
paksaan, melainkan kepada kesadaran. Demikian pula Ibrahim mengajarkan
pemilihan bahasa yang lembut, serta memberikan keteladanan dalam
kehalusan perasaan.









0 komentar:
Posting Komentar