Menanti Fajar di Kampung Toga

Minggu, 27 November 2011

Menanti Fajar di Kampung Toga



http://farm4.static.flickr.com/3544/5741828679_73104c9883.jpg

“Akh Bangun, Qiyamulail.”
Terdengar suara lirih dikeheningan malam dari salah seorang panitia Training Leadership. Malam itu, sekumpulan pemuda sedang mengikuti pola kaderisasi KAMMI Umar bin Khaththab. Sekumpulan pemuda yang memiliki cita-cita luhur untuk membangun sebuah peradaban Islam yang kokoh.

Tepat pukul 03.00, dibawah taburan bintang dan dinginnya pagi itu, para pemuda menyusuri langkahnya untuk mentafakuri alam perbukitan di Kampung Toga dengan bermodalkan sebuah lilin dan tiga batang korek api.

Selepas shubuh, para pemuda berkumpul di sebuah lapang luas di antara perbukitan dan persawahan. Disanalah sebuah komitmen ditentukan. Komitmen untuk menegakkan panji Islam, komitmen untuk terus meneriakan kalimat ‘Takbir’, komitmen untuk menghadang setiap rintangan untuk kemenangan Islam. Dan komitmen untuk mengusung satu tujuan, yakni Jihad Fi Sabilillah.

Karenanya hidup ini adalah perjuangan dan perjuanganlah yang membuat kita hidup.Jihad fi sabilillah merupakan puncak ajaran Islam. Sehingga umat Islam yang melaksanakannya akan mendapatkan kemuliaan dan kejayaan di dunia dan surga Allah di akhirat.

Sebaliknya mereka yang meninggalkan jihad dan tidak terbersit sedikitpun dalam hatinya untuk berjihad akan hina dan menderita di dunia serta mendapatkan siksa Allah di neraka. Jihad adalah satu-satunya jalan bagi umat Islam untuk meraih kejayaan Islam, merdeka dari penjajahan dan meraih kembali tanah yang hilang.

Ketika umat Islam lalai terhadap kewajiban, maka Allah akan menghinakan mereka. Rasulullah saw. bersabda,” Jika kalian telah berdagang dengan ‘Inah (sistem riba’), mengikuti ekor-ekor sapi (sibuk beternak), rela bercocok tanam dan meninggalkan jihad, pasti Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabut kehinaan itu hingga kalian kembali ke ajaran agama kalian.” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Imam Syahid Hasan al-Banna berkata: Sesungguhnya umat yang mengetahui bagaimana cara membuat kematian, dan mengetahui bagaimana cara meraih kematian yang mulia, Allah pasti memberikan kepada mereka kehidupan mulia di dunia dan keni’matan yang kekal di akhirat. Wahn (kelemahan) yang menghinakan kita tidak lain karena penyakit cinta dunia dan takut mati. Maka persiapkanlah jiwa kalian untuk amal yang besar, dan semangatlah menjemput kematian niscaya diberi kehidupan. Ketahuilah bahwa kematian adalah kepastian dan tidak datang kecuali satu kali. Jika engkau menjadikannya di jalan Allah, maka hal itu merupakan keuntungan dunia dan ganjaran akhirat.

Membangun sebuah peradaban tidak akan hidup kecuali dengan jihad, dan dakwah tidak akan hidup kecuali dengan jihad, seberapa tinggi kedudukan dakwah dan cakupannya yang luas, maka jihad merupakan jalan satu-satunya yang mengiringinya. Firman Allah, “Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad” (QS Al-Hajj 78).

Jihad yang diteriakan pagi itu bukan semata-mata untuk mencari musuh, bukan semata-mata untuk membalas dendam dan bukan pula untuk memecah belah umat. Tetapi tujuan jihad kami di jalan Allah adalah untuk mencapai rihdo Allah dan yang disyariatkan dalam Islam untuk menghentikan kezhaliman dan fitnah yang mengganggu kehidupan manusia, melindungi kaum lemah dan tertindas di muka bumi. (QS an-Nisaa’ 74).

Kendatipun jihad yang kami lakukan tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulallah Muhammad SAW, tidak seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Akan tetapi peran kami sebagai mahasiswa, setidaknya jihad yang bisa dilakukan adalah jihad lisan (tabligh, ta’lim, da’wah, amar ma’ruf nahi mungkar dan aktifitas politik yang bertujuan menegakkan kalimat Allah), pena, tangan dan berkata benar di hadapan penguasa tiran.

Tentunya pelaksanaan jihad tidak akan berjalan dengan tanpa dukungan modal. Modal utama kami adalah Iman dan Ukhuwah. Jihad dilaksanakan sebagai upaya maksimal untuk mencapai tujuan yang tidak mungkin dapat dicapai jika seseeorang minim persiapan iman yang kuat dalam dirinya. Karenanya motivasi iman yang kuat akan mengembalikan kekuatan seorang muslim yang mengalami kelesuan, putus asa, menyerah dan kalah apabila tidak terlebih dahulu menjadi mukmin yang sebenarnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang” (QS. Al-Baqarah : 218)

Dalam firman Allah tersebut, mengindikasikan bahwa seorang muslim yang berjihad belum bisa dikatakan sedang berjihad yang sebenanrnya kalau ia belum menjadi mukmin, karena iman adalah yang membedakan jihad kita dengan jihad orang kafir yang juga melakukan jihad, yaitu jihad fi sabili at-thagut.

Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah Swt, dan orang-orang kafir berperang di jalan taghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah” (QS. An-Nisa : 76)

Kita tentu ingat, berapa orang yang terkader oleh Rasulallah, berapa orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya ketika Rasulallah berdakwah di Makkah sebelum hijrah ke Madinah? Karena sesungguhnya iman menjadi landasan seseorang dalam melaksanakan jihad. Orang yang beriman dengan baik maka semangat jihadnya akan lebih besar. Seseorang yang semangat jihadnya besar maka imannya akan bertambah. Begitupun sebaliknya. Disanalah urgensi keimanan seseorang dalam melaksanakan jihad fi sabilillah.Karena dengan jihad, seseorang telah membuktikan keimanannya kepada Allah ta’ala.

Jihad dan Iman tak hayal terlepas dari pertolongan Allah ta’ala, “Cukuplah Allah Swt sebagai penolong kami dan Allah Swt adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali Imran : 173). Karenanya kami tidak takut dengan selain-Nya, disanalah letak keteguhan kami, letak kekuatan kami. Motivasi dari Allah sudah lebih dari cukup untuk menjalankan aktivitas kami sebagai mahasiswa muslim dalam berjihad.

Iman berbanding lurus dengan ukhuwah. Ukhuwah yang terjalin karena Allah, di atas manhaj Allah dan dalam merealisasikan manhaj Rabbani yang agung.

Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah terangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran3 : 103)

Gambaran di atas yang dilukiskan Al-Quran terhadap mereka yang bertemu dalam tali (agama) Allah dan menjadikannya sebagai manhaj, perjanjian dan agamanya, merupakan pertemuan yang bukan sekadar pertemuan untuk mencapai keuntungan yang nisbi atau mencapai tujuan tentunya, namun pertemuan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

Karena itulah marilah sama-sama kita satukan hati karena Allah, karena keimanan tanpa ukhuwah akan hampa sedangkan ukhuwah tanpa iman akan sirna.

Dengan disaksikan mentari fajar, kami berikrar kepada Allah, berikrar untuk mengazamkan diri mencari ridha Allah. Ikrar yang tulus dari dalam hati, ikrar yang air mata suci pun jatuh ke bumi.

Jika ada 1000 orang yang berjihad di Jalan Allah
Maka Aku adalah salah satunya
Jika ada 100 orang yang berjihad di Jalan Allah
Maka Aku adalah salah satunya
Jika ada 10 orang yang berjihad di Jalan Allah
Maka Aku adalah salah satunya
Jika hanya ada satu orang yang berjihad di Jalan Allah
Maka itu adalah Aku
Dan jika tidak ada lagi yang berjihad di Jalan Allah
Maka, saksikanlah bahwa Aku telah mati syahid

Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar..!

Jatinangor, 1 Muharam 1433 H/27 November 2011
Haris Dianto Darwindra



0 komentar: