Israel dan Hasutannya Terhadap Gaza

Rabu, 07 September 2011

Israel dan Hasutannya Terhadap Gaza




Jamal Abu Ridah
Hampir setiap hari, Israel mengklaim keamanannya terancam, kali ini secara lebih besar di perbatasan bagian Selatan, yakni dari arah Gaza dan pulau Sinai Mesir. Media Israel terus memberitakan infiltrasi kelompok pejuang Palestina dari Gaza menuju Sinai, untuk melakukan operasi balas dendam terhadap keamanan dan warga Israel, baik di Sinai maupun di dalam negeri Israel, usai operasi serangan di Eilat yang masih menjadi PR bagi pihak keamanan militer Israel. Pada saat yang sama, Israel juga mengklaim terjadinya penyelundupan sejumlah besar persenjataan dan perlengkapan canggih militer dari Libia melalui wilayah Mesir menuju Gaza. Klaim ini tercermin dalam penetrasi militer Israel di Mesir, terutama di Sinai yang makin meningkat setelah revolusi 25 Januari dan jatuhnya sekutu mereka, rezim Husni Mubarak.
Klaim-klaim Israel ini secara akademis memiliki lebih dari satu tujuan, antara lain:
1.  Israel ingin menghasut Dewan Tinggi Militer Mesir supaya memperketat blokade ekonomi Gaza, dengan menghancurkan jaringan terowongan di perbatasan Mesir dan Gaza, terowongan ini merupakan satu-satunya jalan bagi peneterasi para pejuang Gaza menuju Sinai Mesir.
2.       Menghasut Gaza, dan memutus empati internasional yang terus menyerukan diakhirinya blokade Gaza sejak tahun 2006, yang sampai saat ini tercermin dalam aksi konvoi bantuan melalui Mesir dari segenap benua di dunia.
3.       Membuat opini publik internasional untuk agresi militer ke Gaza yang akan merealisir tujuan Israel mengembalikan kekuatan pasukannya.
4. Mengekspor krisis internal Israel akibat aksi demonstrasi yang disebabkan krisis ekonomi Israel yang terlihat pada tingginya harga, rendahnya upah dan meningkatnya pengangguran.
5.  Menghambat kesuksesan diplomasi Palestina yang makin mendapatkan dukungan internasional untuk meraih kemerdekaannya pada batas 4 Juni 1967 ke PBB, langkah ini dianggap Israel makin menambah isolasi negaranya.
Semua ini sudah seharusnya membuat faksi-faksi Palestina supaya bersatu, menuntut evaluasi politik Palestina, Arab, Kawasan dan internasional secara baik, tidak tergesa-gesa memberikan reaksi tanpa terlebih dahulu dipikirkan, sehingga membuat Israel memanfaatkannya untuk keluar dari krisis internal dan eksternalnya bersama-sama, dengan mengorbankan rakyat Palestina dan masa depannya, di mana mereka telah merasakan penderitaan selama bertahun-tahun, dan sisa agresi Gaza tahun 2008 masih membekas jelas, yang bisa dimanfaatkan Israel untuk mematahkan semangat rakyat Palestina supaya tunduk dan menyerah kepada mereka.
Bisa jadi krisis yang paling besar dirasakan Israel adalah munculnya revolusi Arab yang sampai saat ini telah menggulingkan sejumlah rezim yang belum pernah diprediksikan sebelumnya, rezim Zainal Abidin ben Ali di Tunisia, rezim Husni Mubarak di Mesir, rezim Moammar Khadafi, dan rezim yang masih terancam: Bashar Asad di Suriah dan Abdullah Shaleh di Yaman. Revolusi yang mengembalikan kehormatan dan kemuliaan Arab memberikan harapan setelah hampir 60 tahun berada dalam kondisi diktatorisme. Harapan yang masih ada di masa depan adalah melengserkan arogansi Israel di kawasan, dan mengembalikan sejarah baru bangi bangsa Arab. Semoga harapan mulai terlihat semburatnya. Unjuk rasa masih berlangsung di Kairo menuntut deportasi dubes Israel dari ibukota Mesir, inilah harapan perubahan di dunia Arab, Negara yang pernah ingin menambah hubungan diplomasinya dengan Israel yang meyakini bahwa cara melanggengkan kursi kekuasaannya adalah dengan memberikan dukungan kepada Israel.
Hari ini terbukti, sangat nyata dibandingkan sebelumnya, betapa Negara Israel tidak berdaya di kawasan Arab, setelah hampir seratus tahun Arab mengalami kehinaan dan kekalahan. Persoalan ini seharusnya membuat Palestina dan Arab teguh memegang kendali politik dan nasionalisme untuk rakyat palestina dan tidak menyerah kepada pihak Israel. Sudah berakhir masa dimana bangsa Arab selalu tunduk kepada Israel. Dan sudah tiba waktu dimana Israel kali ini harus tunduk kepada kita, dan mengakui kedaulatan politik dan nasional bagi rakyat Palestina. (qm)infopalestin



0 komentar: